Video tumbilotohe, kiriman dari mbak Nurhikmah yang sedang berada di Gorontalo, singkat aja ya ~

Salam pait semua. Mau memperkenalkan tradisi 3 malam terakhir ramadhan di gorontalo.
Tradisi ini dikenal dengan tumbilotohe atau bahasa indonesianya malam pasang lampu. Jadi setiap rumah menyalakan lampu minyak di depan rumahnya.
Menyalakan lampu minyak di depan rumah dipercaya bisa mendapatkan lailatul qodr.

Kiriman dari Nurhikmah.

Dapat kabar dinding kompleks ada yang nyoret-nyoret. Bagus kalo mau diarahin mana aja yang perlu digambarin. Daripada cuma tembok gitu doank. Tanami aja po? Hanya saja beberapa bapak-bapak ada yang udah nyebut vandalisme duluan.

Ya mau gimana lagi pak. Ruang kreasi kami kurang sebenarnya. Sabar ya pak, mumpung masih puasa, aku ngijinin pak. Tapi suaraku mana nyampek. Haha. – View on Path.

Dapat kabar dinding kompleks ada yang nyoret-nyoret. Bagus kalo mau diarahin mana aja yang perlu digambarin. Daripada cuma tembok gitu doank. Tanami aja po? Hanya saja beberapa bapak-bapak ada yang udah nyebut vandalisme duluan.

Ya mau gimana lagi pak. Ruang kreasi kami kurang sebenarnya. Sabar ya pak, mumpung masih puasa, aku ngijinin pak. Tapi suaraku mana nyampek. Haha. – View on Path.

Selalu ada pasar malam di manapun. Sistemnya muter, dari satu gang ke gang yang lainnya. Malam ini giliran gang Ahim, gang depan rumah. Jadi setiap malam minggu, depan rumah sudah jadi lapak-lapaknya orang. 

Saking ramenya, jalanan ditutup dari depan gang sampai ke dalam. Jadi, jika ingin keluar, sebelum jam 4 sore, kendaraan pribadi diparkir di luar gang. at Kolam Ikan Yang Jadi Tempat Penampungan Air Bersih – View on Path.

Selalu ada pasar malam di manapun. Sistemnya muter, dari satu gang ke gang yang lainnya. Malam ini giliran gang Ahim, gang depan rumah. Jadi setiap malam minggu, depan rumah sudah jadi lapak-lapaknya orang.

Saking ramenya, jalanan ditutup dari depan gang sampai ke dalam. Jadi, jika ingin keluar, sebelum jam 4 sore, kendaraan pribadi diparkir di luar gang. at Kolam Ikan Yang Jadi Tempat Penampungan Air Bersih – View on Path.

Jadi, ini adalah Moll. Lantai paling atas Plaza Mulia adalah masjid. Takjub aja. Udah.

Hehe, shalat Tarwehnya cepet banget.

#TripEmoll with Dodie and rennym at Plaza Mulia – View on Path.

Jadi, ini adalah Moll. Lantai paling atas Plaza Mulia adalah masjid. Takjub aja. Udah.

Hehe, shalat Tarwehnya cepet banget.

#TripEmoll with Dodie and rennym at Plaza Mulia – View on Path.

Sebenarnya ada kereta gantung yang menghubungkan Tenggarong Seberang dengan Pulau Kumala. Pulau buatan di tengah Sungai Mahakam.

Sejak terputusnya jembatan penyebrangan, belum ada lagi tindak lanjut untuk perbaikan dan pemanfaatan fasilitas ini. at Kereta Gantung Pulau Kumala – View on Path.

Sebenarnya ada kereta gantung yang menghubungkan Tenggarong Seberang dengan Pulau Kumala. Pulau buatan di tengah Sungai Mahakam.

Sejak terputusnya jembatan penyebrangan, belum ada lagi tindak lanjut untuk perbaikan dan pemanfaatan fasilitas ini. at Kereta Gantung Pulau Kumala – View on Path.

Ada kerinduan yg tertinggal. Pecahannya ternyata terpencar ke sini. Tepian Mahakam. Tempat ini jadi tempat latihan terakhir dan lomba panjat dinding terakhir.

#Nostalgilak at Tepian Sungai Mahakam – View on Path.

Ada kerinduan yg tertinggal. Pecahannya ternyata terpencar ke sini. Tepian Mahakam. Tempat ini jadi tempat latihan terakhir dan lomba panjat dinding terakhir.

#Nostalgilak at Tepian Sungai Mahakam – View on Path.

achmadlutfi:

Ini adalah tentang Dandelion. Tentang sekuntum Bunga yang biasa, yang keberadaannya juga dianggap biasa, tumbuh dan merekah diantara rerumputan yang tak terlalu diperhatikan.
Tetapi cobalah lihat sekali lagi. Biarkan pandanganmu jatuh lebih dekat kepada ia yang sempurna berbeda disetiap siklus hidupnya. Mungkin, dan aku rasa memang begitu, pada rentang waktu yang tak terlalu panjang, rasa iba akan memenuhi segenap ruang hatimu. Persis seketika kamu tersadar, bahwa ia terlalu cantik dengan takdirnya yang tak terlalu istimewa.
Deretan tanya yang bermula pada kata Mengapa, boleh jadi berloncatan dalam benakmu lantaran berusaha mencari jawaban tentang kenyataan. Tentang kisah hidup Sang Bunga yang baru saja kamu perhatikan.
Mengapa ia tak seperti Edelweiss yang memesona di Puncak sana? Permaisuri yang bertahta di Pegunungan, yang bahkan jemarimu tak layak tuk sembarang membawanya pulang.
Atau mengapa ia tak seperti Bunga Teratai yang elok itu? Berbalut mahkota yang anggun, yang tuk menyentuhnya saja kamu dipaksa rela berbasah kuyup.
Kata yang berbaris-baris, lisan yang bertutur berpanjang lebar, tak kan mengantarkanmu pada jawaban-jawaban itu. Sebab mereka justru tertata pada satu tahun yang sempurna. Pada episode yang berputar dan berganti. Pada cerita yang seakan kembali berjejak ke permulaannya.
Hingga pada satu musim semi yang menghangat, Sang Bunga hadir dan merekah. Ia perlambang keceriaan, ia isyarat akan keteguhan, serta penerimaan atas hidup yang rapuh. Ia yang layak dibesarkan hatinya, justru datang jadi pelipur lara, jadi penyejuk atas hari-hari yang terlalu dingin kemarin.
Bahkan jelang kepergiannya, tak habis ia jadi pesona. Meretas tulus bersama angin yang membawanya pergi menuju satu masa yang lain. Seakan-akan tak pernah selesai ia menyadarkan kita, bahwa hidup, bagaimanapun wujud dan rupanya, selalu patut untuk disyukuri. Bahwa sesungguhnya selalu ada musim semi, pada rangkaian musim-musim yang lain.
Dandelion. Ia memang bukan Edelweiss, bukan Teratai. Ia adalah ia yang tak menyerupai siapa-siapa. Kisahnya adalah kisahnya sendiri. Bukan kisah yang diagungkan dalam dongeng-dongeng. Ia Ratu yang istananya ada diantara mereka, yang sekali lagi, dianggap lazim dan biasa.
Achmad LutfiWolfsburg, 20 April 2014

ia terlalu cantik dengan takdirnya yang tak terlalu istimewa.

achmadlutfi:

Ini adalah tentang Dandelion. Tentang sekuntum Bunga yang biasa, yang keberadaannya juga dianggap biasa, tumbuh dan merekah diantara rerumputan yang tak terlalu diperhatikan.

Tetapi cobalah lihat sekali lagi. Biarkan pandanganmu jatuh lebih dekat kepada ia yang sempurna berbeda disetiap siklus hidupnya. Mungkin, dan aku rasa memang begitu, pada rentang waktu yang tak terlalu panjang, rasa iba akan memenuhi segenap ruang hatimu. Persis seketika kamu tersadar, bahwa ia terlalu cantik dengan takdirnya yang tak terlalu istimewa.

Deretan tanya yang bermula pada kata Mengapa, boleh jadi berloncatan dalam benakmu lantaran berusaha mencari jawaban tentang kenyataan. Tentang kisah hidup Sang Bunga yang baru saja kamu perhatikan.

Mengapa ia tak seperti Edelweiss yang memesona di Puncak sana? Permaisuri yang bertahta di Pegunungan, yang bahkan jemarimu tak layak tuk sembarang membawanya pulang.

Atau mengapa ia tak seperti Bunga Teratai yang elok itu? Berbalut mahkota yang anggun, yang tuk menyentuhnya saja kamu dipaksa rela berbasah kuyup.

Kata yang berbaris-baris, lisan yang bertutur berpanjang lebar, tak kan mengantarkanmu pada jawaban-jawaban itu. Sebab mereka justru tertata pada satu tahun yang sempurna. Pada episode yang berputar dan berganti. Pada cerita yang seakan kembali berjejak ke permulaannya.

Hingga pada satu musim semi yang menghangat, Sang Bunga hadir dan merekah. Ia perlambang keceriaan, ia isyarat akan keteguhan, serta penerimaan atas hidup yang rapuh. Ia yang layak dibesarkan hatinya, justru datang jadi pelipur lara, jadi penyejuk atas hari-hari yang terlalu dingin kemarin.

Bahkan jelang kepergiannya, tak habis ia jadi pesona. Meretas tulus bersama angin yang membawanya pergi menuju satu masa yang lain. Seakan-akan tak pernah selesai ia menyadarkan kita, bahwa hidup, bagaimanapun wujud dan rupanya, selalu patut untuk disyukuri. Bahwa sesungguhnya selalu ada musim semi, pada rangkaian musim-musim yang lain.

Dandelion. Ia memang bukan Edelweiss, bukan Teratai. Ia adalah ia yang tak menyerupai siapa-siapa. Kisahnya adalah kisahnya sendiri. Bukan kisah yang diagungkan dalam dongeng-dongeng. Ia Ratu yang istananya ada diantara mereka, yang sekali lagi, dianggap lazim dan biasa.

Achmad Lutfi
Wolfsburg, 20 April 2014

ia terlalu cantik dengan takdirnya yang tak terlalu istimewa.

Reblogged from annisaadejanira