Kopi dan Ar-Rahmaan

  • Dia : ini apa? Berat betol. *sambil nyari barang di jok belakang*
  • Aku : seperangkat alat kopi dibayar tuuunai.
  • Dia : emank ada yang mau?
  • Aku : ya udah, hafalan surat Ar-Rahman. Gimana?
  • Dia : hih. Sok romantis. *ngeloyor pergi ke kampus*
  • Aku : ya namanya juga usaha.
Pagi ini latian nge-pour. Iya, pouring air pake ceret leher bangau. Susah kalo nyoba sekali dua kali. Kapan nuang, kapan ngangkat. 

Aku menyebutnya kopi perjuangan. Dari biji sampai dituang aja butuh waktu 15 menit paling cepat. Grinder manual, dengan kekasaran untuk di-pour over. Sambil ngerebus air. Menuang ke ceret bangau dengan suhu tidak lebih 80° C. Pagi ini baru 2 kali percobaan. Hasilnya lumayan. Lumayan ancur. Hahaa.

Kopi pertama. Giling kopinya kehalusen, belum aku cek waktu giling, nuang airnya masih kagok. Suhu belum stabil di di atas 70° di bawah 80°. Hasilnya, ada rasa pahit. Warna kopi pekat.

Kopi kedua, giling oke, suhu oke, nuangnya yg kagok. Rasa, ini dia yg dicari. Kopi enak pagi hari. – View on Path.

Pagi ini latian nge-pour. Iya, pouring air pake ceret leher bangau. Susah kalo nyoba sekali dua kali. Kapan nuang, kapan ngangkat.

Aku menyebutnya kopi perjuangan. Dari biji sampai dituang aja butuh waktu 15 menit paling cepat. Grinder manual, dengan kekasaran untuk di-pour over. Sambil ngerebus air. Menuang ke ceret bangau dengan suhu tidak lebih 80° C. Pagi ini baru 2 kali percobaan. Hasilnya lumayan. Lumayan ancur. Hahaa.

Kopi pertama. Giling kopinya kehalusen, belum aku cek waktu giling, nuang airnya masih kagok. Suhu belum stabil di di atas 70° di bawah 80°. Hasilnya, ada rasa pahit. Warna kopi pekat.

Kopi kedua, giling oke, suhu oke, nuangnya yg kagok. Rasa, ini dia yg dicari. Kopi enak pagi hari. – View on Path.

#RaboSoto tadi siang di SotoKudus Ayam Kampung di utara Samsat seberang Timurnya BPAD. 

Untuk ukuran soto Kudus, sudah mengalami modifikasi. Yang penting mah, enaaaak. Iya, ini enak. Ibu yang jual juga ramah. 

Selamat RaboSoto.

Salam ho’o – View on Path.

#RaboSoto tadi siang di SotoKudus Ayam Kampung di utara Samsat seberang Timurnya BPAD.

Untuk ukuran soto Kudus, sudah mengalami modifikasi. Yang penting mah, enaaaak. Iya, ini enak. Ibu yang jual juga ramah.

Selamat RaboSoto.

Salam ho’o – View on Path.

Lama gak nggambar, sekalinya nggambar nyonto dari huhel dengan keyword ‘henna’.

Ini tempat sampul plastik yg tak potong dan kujadikan cabel holder. Polosan, makanya tak urek2. – View on Path.

Lama gak nggambar, sekalinya nggambar nyonto dari huhel dengan keyword ‘henna’.

Ini tempat sampul plastik yg tak potong dan kujadikan cabel holder. Polosan, makanya tak urek2. – View on Path.

@no27coffee. Namanya juga percobaan. Campur sana campur sini, pouring sana pouring sini, kopyok sana kopyok sini. 

Ini kopi apa? | EMBOH! 

. at Esco Restaurant Coffee No 27 – View on Path.

@no27coffee. Namanya juga percobaan. Campur sana campur sini, pouring sana pouring sini, kopyok sana kopyok sini.

Ini kopi apa? | EMBOH!

. at Esco Restaurant Coffee No 27 – View on Path.

Percobaan kedua.

Biji kopi sunda jahe grinder kasar. Dibuat cold brew dengan takaran 20gr untuk 200ml.

Hasil : kayaknya kurang nyentak. Walau time release. Tapi emank kurang. Positifnya, jadi punya cara nyaring sendiri. Pake saringan nylon, karena grinder kasar ya jadinya bisa gak buthek. Mau tak kasi yg barusan balik dari Bali dan pertama kali minum cold brew di sana. 

Ini botol UC1000 140ml. Sisanya tak minum. Maaf, buatnya dikit. Karena keterbatasan alat. with Delta – View on Path.

Percobaan kedua.

Biji kopi sunda jahe grinder kasar. Dibuat cold brew dengan takaran 20gr untuk 200ml.

Hasil : kayaknya kurang nyentak. Walau time release. Tapi emank kurang. Positifnya, jadi punya cara nyaring sendiri. Pake saringan nylon, karena grinder kasar ya jadinya bisa gak buthek. Mau tak kasi yg barusan balik dari Bali dan pertama kali minum cold brew di sana.

Ini botol UC1000 140ml. Sisanya tak minum. Maaf, buatnya dikit. Karena keterbatasan alat. with Delta – View on Path.

Jani begidi. Sore ini ada kajian singkat bareng bapak Edhie Wicaksono. 

Cuma obrolan ringan sih, kayak dialog gitu. Awal pertanyaannya itu ‘Kenapa diuji?’, ‘Buat apa diuji?’, ‘Dari apa diuji?’.

Sehangat obrolan, mengenai ujian dan perjalanan. Penjelasan tentang mengeluh yang keluar beriringan dengan ujian, yang diuji selalu berhubungan dengan hal yang dicintai. 

Apapun, sesuatupun, sewaktu-waktupun. Ujian datang. Bagaimana solusinya? Jika berjalan dengan alas yang benar, arah yang benar, walau menanjak dan terjal. Ada aja kemudahan dan penunjuk jalannya.

. at OSPro Moslem Wedding Organizer – View on Path.

Jani begidi. Sore ini ada kajian singkat bareng bapak Edhie Wicaksono.

Cuma obrolan ringan sih, kayak dialog gitu. Awal pertanyaannya itu ‘Kenapa diuji?’, ‘Buat apa diuji?’, ‘Dari apa diuji?’.

Sehangat obrolan, mengenai ujian dan perjalanan. Penjelasan tentang mengeluh yang keluar beriringan dengan ujian, yang diuji selalu berhubungan dengan hal yang dicintai.

Apapun, sesuatupun, sewaktu-waktupun. Ujian datang. Bagaimana solusinya? Jika berjalan dengan alas yang benar, arah yang benar, walau menanjak dan terjal. Ada aja kemudahan dan penunjuk jalannya.

. at OSPro Moslem Wedding Organizer – View on Path.

greenndyshe:

choqi-isyraqi:

iinms:

octaraisa:

fitriarahmaani:

refresty:

jalansaja:

kotak-nasi:

academicus:

Selama sepuluh tahun, beliau telah banyak mengubah Indonesia.
Menyimak Pidato Kenegaraannya di DPR yang terakhir seperti melihatnya melambaikan tangan, mengucapkan salam perpisahan. Mengingatkan tentang perjalanan panjang bangsa kita. Bahwa kita sebagai bangsa telah jauh berjalan bersama, bergandengan tangan, berjuang menjadi bangsa yang lebih sejahtera.

"Dari bangsa yang sewaktu merdeka sebagian besar penduduknya buta huruf, rakyat Indonesia kini mempunyai sistem pendidikan yang kuat dan luas, yang mencakup lebih dari 200 ribu sekolah, 3 juta guru, dan 50 juta siswa.
Dari bangsa yang tadinya terbelakang di Asia, Indonesia telah naik menjadi middle-income country, menempati posisi ekonomi ke-16 terbesar di dunia, dan bahkan menurut Bank Dunia telah masuk dalam 10 besar ekonomi dunia jika dihitung dari Purchasing Power Parity.
Dari bangsa yang seluruh penduduknya miskin di tahun 1945, Indonesia di abad ke-21 mempunyai kelas menengah terbesar di Asia Tenggara, dan salah satu negara dengan pertumbuhan kelas menengah tercepat di Asia
Dari bangsa yang jatuh bangun diterpa badai politik dan ekonomi, kita telah berhasil mengonsolidasikan diri menjadi demokrasi ke-3 terbesar di dunia”

Sebagian orang mungkin berpendapat bahwa semua stabilitas dan perkembangan ekonomi negara kita adalah “kejadian alami”, yang terjadi karena hasil jerih payah rakyat sendiri.
“Ya itu kan memang karena Indonesia lagi punya bonus demografi”
“Ini memang karena kelas ekonomi menengah kita sedang kuat”
“Ini karena rakyat memperjuangkan perubahannya sendiri, bukan karena pemerintahan SBY”
Buat saya, pendapat seperti ini adalah pendapat pecundang. Mereka terlalu sombong untuk membuka mata dan menerima fakta, bahwa kita bisa mendapatkan semuanya karena kita berjalan bersama, dan kita berjalan di bawah pemerintahan SBY.
Tidak adil jika kita menyalahkan SBY atas semua kegagalan pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu, tetapi tidak memberikan apresiasi sama sekali ketika di bawah kabinet yang sama, terdapat begitu banyak prestasi.
Dan sungguh tidak adil jika kita membandingkan Indonesia dengan Amerika, Eropa, Korea, atau negara lainnya. Indonesia terlalu luas, terlalu besar, dan terlalu beragam untuk disamakan dengan negara manapun di dunia. Menjadi pemimpin sebuah negara dengan ribuan pulau, ribuan suku, ribuan bahasa, dan milyaran pemikiran yang tersebar dalam jutaan kepala adalah sebuah beban yang teramat besar, terlalu besar.

"Menjadi Presiden dalam lanskap politik dimana semua pemimpin mempunyai mandat sendiri, dalam demokrasi 240 juta, adalah suatu proses belajar yang tidak akan pernah ada habisnya"

Dan dia tetap memilih berani berdiri di sana, atas memimpin kita bertumbuh bersama.

"Setelah hampir 7 dekade merdeka, Indonesia di abad ke-21 terus tumbuh menjadi bangsa yang semakin bersatu, semakin damai, semakin makmur, dan semakin demokratis"

Saya mungkin bukan ahli politik, saya bisa jadi tidak mengerti sosial-ekonomi, dan saya barangkali tidak tahu banyak soal tata negara.
Tapi saya tahu pasti menjadi presiden bukanlah perkara mudah.
Saya sadar betul memimpin Indonesia bukan pekerjaan sederhana.
Saya semakin memahami bahwa presiden tak sepantasnya dengan mudah dicaci-maki, dibilang lamban, dicap tolol, diteriaki boneka asing, dan dijadikan lelucon.
Jika memang ia mengkhianati kita sebagai bangsa, saya tidak pasti tahu akan hal itu, sebagaimana Anda pun demikian. Jika memang SBY menjual negara kepada asing atas niatan berkhianat, saya pun tidak melihat dengan mata kepala saya sendiri akan hal itu, sebagaimana Anda pun demikian. Yang tahu pasti akan semua pengkhianatan itu, hanya dia dan Tuhan.
Tapi saya tahu pasti Pak SBY kurang tidur karena memikirkan Indonesia. Terlihat jelas lelah dan semua beban itu di kantung matanya.
Saya percaya Pak SBY mengusahakan perdamaian di negeri ini dengan seksama, agar bangsa kita yang begitu beragam agamanya, begitu berwarna keyakinannya, tidak saling mengadu dan tetap bisa bersatu.

"Dalam sepuluh tahun terakhir, saya telah mencoba mendedikasikan seluruh jiwa dan raga untuk Indonesia. Terlepas dari berbagai cobaan, krisis dan tantangan yang saya alami, tidak pernah ada satu menit pun saya merasa pesimis terhadap masa depan Indonesia. Dan tidak pernah satu menit pun saya merasa tergoda untuk melanggar sumpah jabatan dan amanah rakyat saya sebagai Presiden"

Dan dengan semua perjalanan panjang itu, Pak SBY dengan rendah hati meminta maaf secara terbuka.

"Merupakan kehormatan besar bagi saya menjadi Presiden Republik Indonesia. Saya adalah anak orang biasa, dan anak biasa dari Pacitan, yang kemudian menjadi tentara, menteri, dan kemudian dipilih sejarah untuk memimpin bangsa Indonesia. 
Tentunya dalam sepuluh tahun, saya banyak membuat kesalahan dan kekhilafan dalam melaksanakan tugas. Dari lubuk hati yang terdalam, saya meminta maaf atas segala kekurangan dan kekhilafan. Meskipun saya ingin selalu berbuat yang terbaik, tetaplah saya manusia biasa”

Memikirkan ini semua, saya jadi membayangkan suatu saat nanti ketika saya punya kesempatan bertemu dengan beliau, apa yang akan saya katakan.
Saya teringat berapa banyak saya ikut mencaci beliau dan menjadikannya bahan lelucon, dan betapa sedikitnya saya mengapresiasi dan berusaha benar-benar memahami beban beratnya sebagai pemimpin bangsa Indonesia.
 
Saya mungkin tidak akan berbicara banyak.
Saya akan menjabat tangannya erat, menatap matanya lekat, dan memeluknya dengan hangat.
Saya hanya ingin meminta maaf dan berterima kasih.

Bapak, suwun. Terima kasih banyak. :”)

:)

BigHug for SBY :*

Terima kasih, Pak Presiden :”)



Terimakasih ya Pak… Maturnuwun sanget, perkoro kulo mboten pati remen kaliyan Kanjeng Ibu… :’)

Terima kasih atas dedikasinya bagi negeri ini. Terlepas dari apakah anda banyak kesalahan atau tidak, itu tak apa, karena seyogyanya manusia memang bisa saja salah. Terima kasih pak, terima kasih

Sayang Bapak @SBYudhoyono selalu :’)

greenndyshe:

choqi-isyraqi:

iinms:

octaraisa:

fitriarahmaani:

refresty:

jalansaja:

kotak-nasi:

academicus:

Selama sepuluh tahun, beliau telah banyak mengubah Indonesia.

Menyimak Pidato Kenegaraannya di DPR yang terakhir seperti melihatnya melambaikan tangan, mengucapkan salam perpisahan. Mengingatkan tentang perjalanan panjang bangsa kita. Bahwa kita sebagai bangsa telah jauh berjalan bersama, bergandengan tangan, berjuang menjadi bangsa yang lebih sejahtera.

"Dari bangsa yang sewaktu merdeka sebagian besar penduduknya buta huruf, rakyat Indonesia kini mempunyai sistem pendidikan yang kuat dan luas, yang mencakup lebih dari 200 ribu sekolah, 3 juta guru, dan 50 juta siswa.

Dari bangsa yang tadinya terbelakang di Asia, Indonesia telah naik menjadi middle-income country, menempati posisi ekonomi ke-16 terbesar di dunia, dan bahkan menurut Bank Dunia telah masuk dalam 10 besar ekonomi dunia jika dihitung dari Purchasing Power Parity.

Dari bangsa yang seluruh penduduknya miskin di tahun 1945, Indonesia di abad ke-21 mempunyai kelas menengah terbesar di Asia Tenggara, dan salah satu negara dengan pertumbuhan kelas menengah tercepat di Asia

Dari bangsa yang jatuh bangun diterpa badai politik dan ekonomi, kita telah berhasil mengonsolidasikan diri menjadi demokrasi ke-3 terbesar di dunia”

Sebagian orang mungkin berpendapat bahwa semua stabilitas dan perkembangan ekonomi negara kita adalah “kejadian alami”, yang terjadi karena hasil jerih payah rakyat sendiri.

“Ya itu kan memang karena Indonesia lagi punya bonus demografi

“Ini memang karena kelas ekonomi menengah kita sedang kuat”

“Ini karena rakyat memperjuangkan perubahannya sendiri, bukan karena pemerintahan SBY”

Buat saya, pendapat seperti ini adalah pendapat pecundang. Mereka terlalu sombong untuk membuka mata dan menerima fakta, bahwa kita bisa mendapatkan semuanya karena kita berjalan bersama, dan kita berjalan di bawah pemerintahan SBY.

Tidak adil jika kita menyalahkan SBY atas semua kegagalan pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu, tetapi tidak memberikan apresiasi sama sekali ketika di bawah kabinet yang sama, terdapat begitu banyak prestasi.

Dan sungguh tidak adil jika kita membandingkan Indonesia dengan Amerika, Eropa, Korea, atau negara lainnya. Indonesia terlalu luas, terlalu besar, dan terlalu beragam untuk disamakan dengan negara manapun di dunia. Menjadi pemimpin sebuah negara dengan ribuan pulau, ribuan suku, ribuan bahasa, dan milyaran pemikiran yang tersebar dalam jutaan kepala adalah sebuah beban yang teramat besar, terlalu besar.

"Menjadi Presiden dalam lanskap politik dimana semua pemimpin mempunyai mandat sendiri, dalam demokrasi 240 juta, adalah suatu proses belajar yang tidak akan pernah ada habisnya"

Dan dia tetap memilih berani berdiri di sana, atas memimpin kita bertumbuh bersama.

"Setelah hampir 7 dekade merdeka, Indonesia di abad ke-21 terus tumbuh menjadi bangsa yang semakin bersatu, semakin damai, semakin makmur, dan semakin demokratis"

Saya mungkin bukan ahli politik, saya bisa jadi tidak mengerti sosial-ekonomi, dan saya barangkali tidak tahu banyak soal tata negara.

Tapi saya tahu pasti menjadi presiden bukanlah perkara mudah.

Saya sadar betul memimpin Indonesia bukan pekerjaan sederhana.

Saya semakin memahami bahwa presiden tak sepantasnya dengan mudah dicaci-maki, dibilang lamban, dicap tolol, diteriaki boneka asing, dan dijadikan lelucon.

Jika memang ia mengkhianati kita sebagai bangsa, saya tidak pasti tahu akan hal itu, sebagaimana Anda pun demikian. Jika memang SBY menjual negara kepada asing atas niatan berkhianat, saya pun tidak melihat dengan mata kepala saya sendiri akan hal itu, sebagaimana Anda pun demikian. Yang tahu pasti akan semua pengkhianatan itu, hanya dia dan Tuhan.

Tapi saya tahu pasti Pak SBY kurang tidur karena memikirkan Indonesia. Terlihat jelas lelah dan semua beban itu di kantung matanya.

Saya percaya Pak SBY mengusahakan perdamaian di negeri ini dengan seksama, agar bangsa kita yang begitu beragam agamanya, begitu berwarna keyakinannya, tidak saling mengadu dan tetap bisa bersatu.

"Dalam sepuluh tahun terakhir, saya telah mencoba mendedikasikan seluruh jiwa dan raga untuk Indonesia. Terlepas dari berbagai cobaan, krisis dan tantangan yang saya alami, tidak pernah ada satu menit pun saya merasa pesimis terhadap masa depan Indonesia. Dan tidak pernah satu menit pun saya merasa tergoda untuk melanggar sumpah jabatan dan amanah rakyat saya sebagai Presiden"

Dan dengan semua perjalanan panjang itu, Pak SBY dengan rendah hati meminta maaf secara terbuka.

"Merupakan kehormatan besar bagi saya menjadi Presiden Republik Indonesia. Saya adalah anak orang biasa, dan anak biasa dari Pacitan, yang kemudian menjadi tentara, menteri, dan kemudian dipilih sejarah untuk memimpin bangsa Indonesia.

Tentunya dalam sepuluh tahun, saya banyak membuat kesalahan dan kekhilafan dalam melaksanakan tugas. Dari lubuk hati yang terdalam, saya meminta maaf atas segala kekurangan dan kekhilafan. Meskipun saya ingin selalu berbuat yang terbaik, tetaplah saya manusia biasa”

Memikirkan ini semua, saya jadi membayangkan suatu saat nanti ketika saya punya kesempatan bertemu dengan beliau, apa yang akan saya katakan.

Saya teringat berapa banyak saya ikut mencaci beliau dan menjadikannya bahan lelucon, dan betapa sedikitnya saya mengapresiasi dan berusaha benar-benar memahami beban beratnya sebagai pemimpin bangsa Indonesia.

 

Saya mungkin tidak akan berbicara banyak.

Saya akan menjabat tangannya erat, menatap matanya lekat, dan memeluknya dengan hangat.

Saya hanya ingin meminta maaf dan berterima kasih.

Bapak, suwun. Terima kasih banyak. :”)

:)

BigHug for SBY :*

Terima kasih, Pak Presiden :”)

Terimakasih ya Pak… Maturnuwun sanget, perkoro kulo mboten pati remen kaliyan Kanjeng Ibu… :’)

Terima kasih atas dedikasinya bagi negeri ini. Terlepas dari apakah anda banyak kesalahan atau tidak, itu tak apa, karena seyogyanya manusia memang bisa saja salah. Terima kasih pak, terima kasih

Sayang Bapak @SBYudhoyono selalu :’)

Reblogged from greenndyshe

Kau menunggu ceritanya. Bukan hanya rasanya. Kau menunggu pengalamannya. Bukan hanya pekatnya. Dan kau menunggu kehadirannya. Bukan hanya aromanya. (at House of Healing)

Kau menunggu ceritanya. Bukan hanya rasanya. Kau menunggu pengalamannya. Bukan hanya pekatnya. Dan kau menunggu kehadirannya. Bukan hanya aromanya. (at House of Healing)